Rindu Di Kota Jogo
Rindu di kota jogo
Pagi begitu ranum di mata
Rindu yang tak bermalam,
begitu kantuk di dada.
Terseret Suara ombak yang memecah keheningan,
Dihakimi ribuan rasa
dijadikan ayunan oleh angin seakan mempermainkan raga untuk meraba situasi yang tak berfaedah dan menerka risau angin yang menampar keheneheningan.
Karena resah yang risau, hati mulai keruh,
Rindu mulai bisu, tertegun. Jatuh di bola mataku.
Bangunlah bangunlah, buka matamu lihat tubuh yang kau tiduri dengan gelisah ini begitu bugar setelah senam bersama mimpimu semalam.
Yah mimpi
mimpi yang kau temui di sela-sela redup mata yang hampir tenggelam di pertengahan malam.
Dia Dia yang membentuk
Rinduku oleh suara ombak yang merdu
Oleh suara angin yang menggeliat mesra di telinga seakan ingin memanggil namamu.
Disini, di tempat ini.
Bayangmu bertamu lalu pulang tanpa pamit
Keluh tak pernah meneduh
Waktu tak pernah memayungi hati
Resah bertubi-tubi menangis
Membanjiri pipi.
Membasahi luka yang kering.
Kau pikir aku laki-laki yang bisa kau jual harga dirinya kepada angin dan djterbangkan kemanapun tanpa tau persristirahatan terakhir
Di ujung laut fajar bertengger dan berkokok saling bertalu menyampaikan kangen yang tak sempat di lepas pada temu yang telah usai.
Di ujung gelisah sepi
waktu mengatup mata untuk meniduri segala patah di relung jiwa yang sudah lama tak bernada melodi canda yang candu rasa hangat.
Dingin seakan membekukan luka,
Merebahkan penat di alam, memberitahu rumput-rumput liar bahwa sejati mencintai akan ada pada pengecut yang birahi dengan waktu
Terbayang ke masa lalu
Sesungging senyum masih berkelana di keluarga kenangan yang menyimpan dendam ketika egois angin menahan amarah lalu sepoi-sepoi membeberkan kesejukan di telinga dengan bisik-bisik geli yang menggeliat menyuarakan bahagia tanpa penat yang resah.
Mungkin benar adanya situasi beserta kenangan akan hadir kembali meneriaki kemunafikan waktu yang tak sejati.
Sudah waktunya raga beristirahat di tempat yang paling merdu, dengan nyanyian seribu lagu mesra yang tak pernah keruh.
Sudah saatnya
Marno lako
Terimakasih kota jogo dan inspirasinyaNagekeo, ankoli. Kotajogo 2

Komentar