Merayu anak-anak di kolong jembatan
Gambar: segelas kopi pahit memandang pahit
Merayu anak-anak di kolong jembatan
Merayu anak-anak nakal di kolom jembatan. Menculik tawa di langit, memajang binar bulan di lekuk bibir.
Ayo sayangku, kamu masih manusia abadi di mata kami.
Kita sama-sama sampah yang akan didaur Tuhan kelak di kepakan sayap burung yang jatuh bersama angin.
Apa kabar anak rumahan.
Puisi paling indah dan sederhana ketika kamu tertawa merayu anak-anak di kolong jembatan.
Merayakan malam di atap langit bersama
Merayakan salam di dinginya malam
Menghangatkan badan dengan kardus bekas jualan.
Baca juga: Siapakah Tamu saat Hujan malam ini?
Aku mencintai kekumalan ini
Aku mencintai baju sobek dan celana berlumuran lumpur dekil
Mencintai paling sederhana adalah bahagia tak terkira, daripada mengharapkan dalam hayalan
Di ujung malam
Anak-Anak dirampas hak, dipangku oleh waktu
Tanpa dongeng dan usapan lentik jemari
Mereka dibesarkan dengan angin, Hujan, panas.
Terimakasih pahit ini yang masih lebih baik.
Apa kabar anak rumahan yang masih menyesali hidup berkecukupan?
Merdeka ka me kame ha.
Marno lako
Indonesia 2021-2022



Komentar