Kering-kering mendidih di Rinduku



Photo: max molina
Kering-kering mendidih di rinduku
 
Langit menatap dalam mata biru
Angin semakin meringis, Mendidih di kulitku seakan ingin menfasirkan rindu.
Jejak napasmu kusentuh,
Terkulai jatuh seperti biji sesawi di tengah lumpur.
Seusai biru meneteskan puisi rintik dalam sejati merindu

Daun kering, ranting tak berdosa dan angin saling mengadu asmara
Guguran di misum lalu menjadi haru yang hiruk pikuk
Ranting terus menepuk pundak dari kerinduan kejayaan waktu kilau akar melahap kalbu abu dengan humus paling mulus.
Namun apa daya
Semua patah dalam air mata
Dimasak di bola mata dengan wajan kangen, mendidih paling dalam merubuhkan dahaga sedia kala.

Cukup sekian dulu kering abu-abu yang lengket di ujung sepatumu dan hingga bintang meredup, malam tenggelam jangan ragukan aku
Rindu dan ketulusan selembut mentari yang merdu esok hari.

Komentar

Postingan Populer