Surat Dari Mata Bumi Yang Tak Pernah Munafik
Surat Dari Mata Bumi Yang Tak Pernah Munafik.
Dari balik bilik
cahaya mengintai
menelusuri liang gelap
merampas hitam
menyulam semoga menjadi amin yang munafik
Lewat angin suara hati ibu menjadi samar di telinga ayah. Terisak-isak mentangisi padi untuk buah hati.
Terlihat jelas Dari balik bilik.
lelaki sejati sibuk memilih benih padi yang disiapi ibu dengan hati agar tidak mati di ladang nanti sambil menangis dan meringis lagi lagi doa untuk buah hati.
Dari balik bilik
Ibu mengiringi Doa langkah pujaan hatinya di bahu jalan,
Ayah berjalan beriringan memikul beban buah hati dan benih padi yang dipilah ibu semalam.
Semoga hangatnya aspal tak menyantap telapak yang perkasa
tak ada alas kaki, pecah, semoga menjadi berkah.
Dari Tempat berbeda
Tepat disudut jendela kaca,
cahaya laptop memengaruhi mata
Buah hati ayah dan ibu yang selalu dipikul ke ladang.
tuki taki bunyi keyboard, jari-jemari seorang anak menanam kata untuk padi yang memupuki semangat ayah di hari jaya yang terlalu huru-hara.
Dari sudut kop surat untuk ayah dan ibu
Keringat digambari dengan sedih, realistis tdk terkualifikasi pikiran untuk mengabaikan buah hati yang menanam kata di sudut jendela.
Usai mengirim surat Dari sudut jendela, seorang anak beranjak ke pelataran luas, keramaian melalangbuana ke dalam pikirannya.
Berjalan, memotret pedih dengan caption senja, menikmati pagi tanpa seragam sekolah di tongkrongan biasa,
Asap rokok, bir dan sopi sebagai pengantar halu berjas, berdasi rapi memegang koper sembari menanti kiriman hasil dari padi.
Ayah, ibu yah maaf saja, saya masih kanak-kanak.
Marno lako
Lorong Dolog 2020


Komentar